Kontroversi Onani & Masturbasi

Kontroversi Onani & Masturbasi

Kontroversi Onani & Masturbasi

Ada seorang wanita yang tinggal jauh dari suaminya, begitupun sebaliknya (karena suami kerja jauh). Sementara masing-masing memiliki kekurangan yakni syahwat yg besar.Bolehkah masing-masing dari Pasutri ini melakukan istimna\’ (onani & masturbasi)…? Krn utk melakukan puasa msh belum bisa teredam nafsu syahwat tsb. Bagaimana solusi bagi pasutri tersebut? Mohon jawaban Ustad segera.
Jazaaumulloohu khoyr…

Pengirim :
arifxxxxx@gmail.com

Jawaban :
Bismillah…
AlaikumSalamWarahmatulloh,
Ulama Islam berbeda pendapat dalam menyikapi perbuatan Al-Istimna`/masturbasi karena adanya perbedaan persepsi dalam memandang hal-hal yang melatar belakangi terjadinya perbuatan tersebut. Diantara pendapat mereka adalah :

Pertama : Pendapat yang Mengharamkannya secara Mutlak.

Mereka adalah pengikut mazhab Malikiyah, Syafi’iyyah dan Zaidiyyah, dengan mengatakan: Perbuatan masturbasi hukumnya haram, karena Allah Ta`ala memerintahkan agar selalu menjaga alat kelaminnya supaya tidak tersalurkan  ke jalan yang haram. Dan hukum haram ini telah disebutkan oleh ulama salaf dan khalaf baik seorang muslim itu takut terjerumus dalam zina maupun tidak.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: “Masturbasi dengan tangan itu hukumnya haram menurut jumhur ulama, dan inilah jawaban yang rajih di antara dua pendapat dalam mazhab Ahmad dan pelakunya dikenai ta’zir”[ Majmu’ Fatawa: 34/229-231].

Dan ini adalah pendapat para ulama yang mulia, seperti Syaikh As-Sinqithi, Syaikh Albani, Syaikh Utsaimin, Syaikh Bin baz dan yang lainnya. Pendapat ini didasarkan beberapa dalil,

{ وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ, إِلا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ, فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ}
“Dan Orang-orang yang menjaga kemaluaannya, Kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela. Barangsiapa mencari dibalik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas” (QS. Al-Mukmunin: 5-7)

            Yang pada dasarnya, ayat di atas menjelaskan akan wajibnya menjaga kemaluan dari setiap kenikmatan dan kesenangan yang didapat melalui kemaluan seperti mengeluarkan mani, kecuali kepada istri atau hamba sahaya. Barang siapa saja yang mencari kenikmatan selain dengan itu termasuk dengan masturbasi, maka dia termasuk orang –orang yang melampaui batas.

Kedua : Pendapat yang mengatakan Mubah secara Mutlak

Diantara mereka adalah Ibnu Hazm, sebagian riwayat dari Imam Ahmad, Ibnu Umar, Atha’, Ibnu Abbas, Al-Hasan dan beberapa ulama Tabi’in.

 Ketiga : Pendapat yang merinci hukum Al-Istimna`

Mereka berpendapat, jika masturbasi dikerjakan tidak dalam keadaan darurat, hukumnya haram, tetapi jika ia melakukannya dalam keadaan darurat, hukumnya mubah.

Pendapat ini dipegang oleh sebagian mazhab Hanabilah dan Hanafiah, dalil keharaman Al-Istimna`/ masturbasi sama dengan dalil pendapat pertama, adapun dalil tentang mubahnya adalah kaidah fiqih: Ad-Dharurah Tubihul Mahdzurat.

Al-Istimna`/Masturbasi bisa disebut darurat jika telah memenuhi tiga hal yaitu jika ia tidak melakukan masturbasi ia akan mati atau sebagian tubuhnya akan rusak atau cacat atau akan menimbulkan kerusakan yang lebih besar dan nyata. Jika ketiga syarat tersebut telah terpenuhi, maka hukum Al-Istimna`/masturbasi yang awalnya haram berubah menjadi mubah, tetapi kadang-kadang wajib bila dilakukan untuk menghindari perbuatan zina. Karena upaya menghindari perbuatan tersebut hukumnya wajib.

Terakhir, Mohon maaf bila dirasa ada keterlambatan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang  masuk ke redaksi, serta Mohon Maaf apabila banyak pertanyaan yang belum sempat terjawab mengingat keterbatasan ilmu dan waktu. Waallohu Ta`ala `Alam.

Tertanda, Redaksi MutiaraHikmah.
www.mutiaraHikmah.com

468 ad

5 Responses to “Kontroversi Onani & Masturbasi”

  1. nur says:

    Bagaimana hukumnya jika istri mlakukan onani/masturbasi disebabkan suami tdk dpt mmuaskan istri akibat suami mderita impotensi namun dgn spengetahuan suami…?

    • Dibolehkan bagi seorang istri untuk mlakukan Istimna`/onani/masturbasi disebabkan suami tidak dapat mmuaskan istri akibat suami menderita impotensi, namun dengan syarat hal tersebut dilakukan dengan menggunakan tangan/organ suaminya tersebut berdasarkan keumuman dari firman Alloh `Azza Wa Jalla :
      { وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ, إِلا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ, فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ}
      “Dan Orang-orang yang menjaga kemaluaannya, Kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela. Barangsiapa mencari dibalik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas” (QS. Al-Mukmunin: 5-7)
      Yaitu dari kalimat إِلا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ (Kecuali terhadap istri-istri mereka), maka Istimna`/ onani/masturbasi yang dilakukan dengan tangan suaminya tersebut bukan tergolong sebagai perbuatan yang melampaui batas. Allohu Ta`ala Alam.

      Tertanda, Redaksi MutiaraHikmah.
      http://www.mutiaraHikmah.com
      FansPage Situs:
      http://www.facebook.com/mutiarahikmahdotcom?ref=hl

  2. leandra kira lavina says:

    Saya mau nanya pak ustad,Apakah orang yang sering Anoni Masih perjaka ataukah tidak.

    Mohon di balas ya pak ustad :)

  3. leandra kira lavina says:

    Saya mau nanya pak ustad,Apakah orang yang sering Anoni Masih di katakan perjaka ataukah tidak.

    Mohon di balas ya pak ustad :)

    • Permasalahan paling besar yang ada pada diri anda sekarang ini bukanlah apakah anda masih perjaka ataukah tidak.
      Namun,
      Kepada siapakah kita berMaksiat ?
      Apakah anda tidak takut terhadap adzab Alloh `Azza Wa Jalla yang maha pedih yang ditimpakan kepada hambanya yang bermaksiat ?
      Tidakkah kita berfikir bahwa kemaluan yang kita miliki adalah sebuah nikmat yang sangat besar ?
      Lalu kenapa kita justru menggunakan nikmat tersebut untuk bermaksiat kepadaNya ?
      Pernahkah kita melihat seseorang yang menjerit kesakitan karena tidak bisa kencing secara wajar dengan kemaluan ?
      Tidakkah kita berfikir akan hal tersebut ?
      lalu, apakah kita rela jika Alloh `Azza Wa Jalla mencabut nikmat tersebut dari kita hanya gara-gara kita dianggapNya tidak bisa bersyukur dengan segala yang telah dianugrahkanNya ?
      Semoga kita termasuk hamba-hambaNya yang senantiasa berSyukur dan kembali kepadaNya.
      Aamiin …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>