Karena Mereka Memang Teroris (8)

Karena Mereka Memang Teroris (8)

Beberapa Catatan Penting Atas Maraknya Berbagai Aksi Teror, Peledakan, Serta Pembunuhan

Catatan Ketujuh :
Beberapa Terapi Untuk Meredam Maraknya Aksi Teror  (1)

Setiap penyakit pasti ada obatnya. Apabila suatu obat cocok dengan penyakitnya, maka penyakit akan sembuh dengan izin Allah . Tidak diragukan lagi bahwa aksi teror serta pengeboman diibaratkan  layaknya penyakit yang harus diobati. Dan jika kita melihat kaidah-kaidah dipegang oleh Ahlussunnah, maka dapat kita ketahui bahwa obat bagi penyakit ini adalah  ilmu, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah  didalam qosidah-nya :  (: 2/39 القصيدة النونية الكافية الشافية في الانتصار للفرقة الناجية)

والجهل داء قاتل وشفاؤه *** امران في التركيب متفقان

نص من القرآن أو من سنة *** وطبيب ذاك العالم الرباني

Kebodohan adalah penyakit ganas dan obatnya

                      Dua perkara yang terkumpul didalam satu tatanan

Teks dari Qur’an atau dari Sunnah

                      dan Dokter penyakit itu yaitu Ulama yang kokoh keilmuannya.

Dan kami tegaskan bahwa obat dari penyakit ini didalam beberapa perkara dibawah ini –insyaAlloh-:

Pertama          : Mengambil ilmu dari para para ulama yang amanah, yang dapat dipertanggungjawabkan kapasitas keilmuannya. Serta menjadikan mereka sebagai rujukan didalam perkara-perkara agama.

Rosulullah  bersabda:

(( لا تَزَالَ الناس بِخَيرٍ مَا أَخَذُوا العِلْمَ عَنْ أَكَابِرِهِمْ وعن أمنائهم وعلمائهم ؛

فَإِذا أَخَذُوهُ عَن أَصاغِرِهِم وشرارهم هلكوا ))

“Manusia tetap akan baik selama mereka mengambil ilmu dari orang-orang besar dan ulama diantara mereka. Jika mereka mengambilnya dari orang-orang kecil dan jahat di antara mereka, maka mereka akan binasa.”

(المدخل إلى السنن الكبرى للبيهقي: 209)

Oleh karena itu, tidak dibolehkan bagi kita untuk mengambil ilmu dari orang-orang yang senantiasa mencela ulama dan orang-orang yang berjalan diatas manhaj mereka (para pencela ulama), sebagaimana firmanNya:

{ وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ … }

“Apabila engkau (Muhammad) melihat orang-orang memperolok-olokan ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka hingga mereka beralih kepembicaraan yang lain”. (QS.Al-An’am:68)

Kedua          : Menyebarkan peranan para ulama dan keutamaan mereka, serta menyebutkan kebaikan-kebaikan mereka, dan mengumpulkan hati kaum muslimin untuk kembali kepada ulama ketika terjadi perselisihan dalam memahami sebuah dalil.

Maka sungguh suatu umat tidak mungkin selamat jika mereka menjadikan harga diri ulama seperti barang dagangan untuk yang dicela oleh orang-orang hina..!!!

(( إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ ))

“Kalau suatu perkara diberikan kepada selain ahlinya maka tunggulah kebinasaannya”.(HR. Bukhori).

Jika mereka para penebar teror dan pengeboman mengatakan bahwa; “Kami memiliki ulama dan kalian memiliki ulama..!!!”, maka kita dapat menjawab perkataan mereka ini dengan perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah  ketika menjelaskan siapakah hakekat ulama, yaitu :

ومن له في الأمة لسان صدق عام، بحيث يثنى عليه، ويحمد في جماهير أجناس الأمة، فهؤلاء هم أئمة الهدى، ومصابيح الدجى،

 وغلطهم قليل بالنسبة إلى صوابهم، وعامته من موارد الاجتهاد التي يعذرون فيها، وهم الذين يتبعون العلم والعدل،

فهم بعداء عن الجهل والظلم، وعن اتباع الظن، وما تهوى الأنفس

“….dan barang siapa yang memiliki perkataan yang jujur bagi umat yang mana dia dipuji dan disanjung dihadapan manusia, maka mereka adalah para ulama pembawa hidayah dan lentera dikegelapan malam, dan kesalahan mereka sangat sedikit jika dibandingkan dengan kebaikan mereka. Kesalahan mereka kebanyakan didalam masalah-masalah Ijtihad yang dimaklumi kesalahannya. Maka mereka adalah orang-orang yang senantiasa mengikuti ilmu dan keadilan, dan mereka adalah orang-orang yang paling jauh dari kejahilan, kedzoliman, prasangka dan hawa nafsu.” (Majmu’ Fatawa 11/43).

Maka apakah ulama kalian telah sampai derajat seperti tinggi dihadapan umat Islam ???

Dan apakah ulama kalian termasuk orang-orang yang belajar -walaupun sedikit- kepada ulama-ulama kita, bahkan belajar kepada murid mereka atau murid-murid mereka para ulama ???

lalu bagaimana mungkin kalian merasa lebih baik dibandingkan para ulama ???

Dan orang-orang yang dahulu kalian agung-agungkan, kebanyakan dari mereka saat ini telah bertaubat dari  pemikirannya tersebut dan telah kembali kepada pemikiran yang benar sebagaimana yang telah terjadi di Mesir, Syam, Jazirah dan selainnya.

Apakah suatu dakwah yang kebanyakan pemimpinnya telah menyatakan bertaubat dari pemikiran radikal, dan takfir (mengkafirkan orang lain) lebih layak untuk diikuti ??? Ataukah dakwah yang ulamanya konsisten diatas manhaj salaf dan tidak menyeleweng dari dakwah ini, bahkan kemuliaan mereka senantiasa berpengaruh di segala penjuru dunia ???

Ketiga          : Senantiasa mengarahkan dan mendidik para generasi muda (kepada pemikiran yang lurus).

Dan hendaknya kewajiban ini ditegakkan diatas metode yang bertahap serta berkesinambungan. Dalam hal ini, para ulama adalah sosok yang paling mampu untuk melakukan kewajiban ini. Dan jikalau mereka meninggal, atau berdiam diri, atau bahkan sibuk (dengan diri mereka sendiri), maka fitnah ini akan semakin kuat.

Rosulullah bersabda :

« إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْزِعُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ النَّاسِ,  وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعُلَمَاءَ حَتَّى إِذَا لَمْ يَتْرُكْ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً,

 فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا »

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu secara langsung, tetapi Allah  mencabutnya dengan mematikan para ulama. Sampai ketika tidak tersisa seorangpun dari ulama maka manusia mengambil para pemimpin yang bodoh, maka mereka ditanya kemudian mereka menjawab tanpa adanya dasar ilmu maka mereka akan sesat dan menyesatkan”. (HR. Bukhari Muslim).

Keempat        : Melakukan pengkajian yang lebih mendalam akan hakikat dari tujuan syariat, beserta dengan kaidah-kaidahnya berdasarkan manhaj para  ulama rabbani.

Selain itu, senantiasa menimbang-nimbang antara maslahat (kebaikan) dan mafsadah (keburukan) dengan mengikuti pendapat para ulama didalam memastikannya -walaupun pendapat kita berbeda dengan pendapat mereka-. Hal ini lebih utama karena dapat menyatukan kaum muslimin dan akan tercipta darinya suatu persatuan dan kekuatan, daripada mengikuti pendapat-pendapat yang saling bertolak belakang sehingga menyebabkan kelemahan dan kehancuran!!!.

Bersambung……

468 ad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>